100 Tahun Kebangkitan Indonesia, Kenaikan BBM dan Kebijakan BLT, Kasus Suap Jaksa, Ahmadiyah, AKBB dan SKB 3 Menteri, Kekerasan di Lingkungan Remaja, dan Tewasnya Mahasiswa UNAS.
Ya, pasca memperingati 100 tahun kebangkitan nasional yang dirayakan secara besar-besaran melalui parade, pemasangan sejumlah (banyak) iklan mengenai ihwal kebangkitan nasional, tercuat berbagai isu yang justru mengkhawatirkan kebangkitan nasional itu sendiri. Maka sebagian masyarakatpun mulai berfikir seperti ada sesuatu yang agak aneh dibalik itu semua. Sebenarnya media telah berhasil menjadikan 100 tahun kebangkitan nasional sebagai isu utama mengalahkan isu-isu lain yang sebenarnya justru akan mengubur semangat kebangkitan nasional. Masyarakatpun mulai lupa apa yang telah terjadi. Saat itu mereka hanya berfikir “inilah seratus tahun kebangkitan Negaraku”.
Tidak ada yang salah dengan perayaan kebangkitan nasional. Justru ini perlu dijadikan momentum. Tapi, mari bersama, dengan pandangan yang umum, kita lihat kembali apa yang terjadi di sini. Yang terkubur oleh isu kebangkitan. Serta hal-hal yang terjadi pasca kebangkitan dan menodai kebangkitan itu sendiri.
Belum selesai euphoria mengenai kebangkitan nasional, seperti ada berita yang langsung “menampar” setelah 100 tahun perayaan kebangkitan nasional. Yaitu kenaikan BBM dan kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Serentak terjadi penolakan yang menyulut tindak kekerasan antara aparat penegak hukum melawan mahasiswa dan masyarakat. Kenaikan BBM dan BLT begitu ditentang namun kebijakan itu tetap berjalan saja. Disini saya tidak akan membahas mengenai mengapa pemerintah menaikkan kebijakan kontroversi yang menjatuhkan banyak korban KARENA saya TIDAK TAHU apa yang pemerintah pikirkan. Lagipula ini adalah sebuah isu global dimana hampir seluruh dunia turut menaikkan tarif BBM-nya. Oke, mari kita lanjutkan pembicaraan kita ke sebuah kasus yang lebih spesifik yang telah mencoreng nama kejaksaan agung. Yaitu skandal antara ARTALYTA dan para JAKSA. Yang digadang-gadang “kalah populer” dibandingkan dengan kasus kenaikan BBM. Sebenarnya ini adalah kasus yang sangat kotor tapi masyarakat masih lebih memikirkan masalah kenaikan BBM.
Protes dan demonstrasi massa terjadi dimana-mana akibat kenaikkan BBM. Sepertinya tidak ada satupun hal “wah” terjadi yang bisa membuat masyarakat lupa akan kenaikkan BBM. Jika dibiarkan berlanjut, hal ini bisa menggoncangkan stabilitas pemerintah yang bersikeras menaikkan harga BBM dan menjalankan program BLT. Sampai akhirnya terjadi tragedi monas. Pengeroyokan FPI terhadap AKBB. Pengeroyokan yang terjadi akibat tidak jelasnya sikap pemerintah mengenai Ahmadiyah.
Masyarakat tercengang dan lupa sejenak akan kenaikkan BBM. Pemerintah seperti punya objek baru yang bisa dijadikan sebagai momentum untuk membuat masyarakat lupa akan kenaikkan BBM. Sejumlah Ormas Islam menyuarakan dukungannya terhadap FPI mengenai rencana pembubaran Ahmadiyah bukan kepada tindakan kekerasannya. Dan ormas-ormas lain menyuarakan agar FPI juga dibubarkan. Pro kontra ini pada akhirnya mendorong pemerintah untuk segera menetapkan status hukum ahmadiyah. Maka keluarlah SKB 3 menteri yang kembali menjadi kontroversi dan mediapun turut berperan membuat SKB yang tidak jelas dan diperdebatkan ini menjadi makin populer dengan tujuan meningkatkan pembaca/pendengar/pemirsa. Maka makin tenggelamlah kasus suap Jaksa, kenaikkan BBM, dan isu mengkhawatirkan lainnya yang mengarat di tubuh pemerintahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar